UNDUH SEKARANG

17 nov 2 1 1
Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton

Bagikan :

Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton?

Kalau bicara soal drama maupun film, tokoh utama biasanya digambarkan sebagai sosok protagonis yang punya karakter baik hati atau jadi perhatian karena kehidupan yang teraniaya. Namun diakui atau tidak, ada satu tipe karakter dalam drama Jepang yang entah kenapa selalu berhasil mencuri perhatian, bahkan ketika sifatnya menyebalkan. Karakter seperti ini biasanya dikenal dengan istilah tsundere.

Tsundere sendiri sering terlihat galak, jutek, susah didekati, atau pura-pura tidak peduli. Tapi semakin lama cerita berjalan, sisi lain mereka mulai muncul perlahan. Diam-diam perhatian. Diam-diam peduli. Dan anehnya, justru karakter seperti inilah yang sering paling diingat penonton. Memangnya apa sih yang menarik dari penokohan ini? Yuk kita bahas!

Apa Itu Tsundere?

Awalnya, istilah tsundere lebih populer di dunia anime dan manga Jepang. Melansir Medium, kata ini berasal dari gabungan “tsun-tsun” yang menggambarkan sikap dingin atau ketus, dan “dere-dere” yang berarti lembut atau penuh kasih sayang.

Namun seiring waktu, tipe karakter ini berkembang menjadi bagian besar dari pop culture Jepang, termasuk dalam drama live action. Menariknya, tsundere bukan cuma soal karakter yang “galak lalu jatuh cinta”. Ada alasan psikologis dan budaya yang membuat penokohan ini terus bertahan sampai sekarang.

Bukan Karakter Jahat, Hanya Sulit Menunjukkan Perasaan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang tsundere adalah anggapan bahwa mereka sekadar karakter kasar. Padahal, inti dari tsundere sebenarnya bukan kemarahan, melainkan kesulitan mengekspresikan emosi.

Mereka sering terlihat defensif karena tidak nyaman menunjukkan sisi rentan mereka sendiri. Kadang gengsi. Kadang takut ditolak. Kadang bahkan tidak tahu cara mengungkapkan rasa sayang dengan benar. Itulah kenapa banyak karakter tsundere terasa lebih manusiawi dibanding karakter yang dari awal sudah ramah dan terbuka.

Dalam kehidupan nyata, cukup banyak orang yang sebenarnya seperti itu. Tidak semua orang bisa langsung jujur soal perasaan mereka. Ada yang memilih bercanda, menghindar, atau bersikap dingin untuk menutupi rasa gugup dan takut terlihat lemah. Dan mungkin karena itulah penonton merasa karakter tsundere lebih relatable.

Daya Tariknya Ada pada “Proses Membuka Diri”

Bagi banyak orang, karakter yang langsung terlihat baik dari awal memang menyenangkan sehingga sangat mudah untuk jadi idola. Masalahnya, karakter yang terlalu sempurna macam ini sering kali kurang meninggalkan rasa penasaran, dan hanya menciptakan simpati yang terbilang umum. 

Sementara tsundere bekerja dengan cara sebaliknya. Dalam hal ini, penonton diajak melihat karakter selapis demi selapis. Awalnya dingin dan menyebalkan, sehingga penonton akan mendeteksinya sebagai villain. Seiring waktu, tokoh ini berubah lalu mulai peduli sedikit, dan kemudian tanpa sadar mulai menunjukkan perhatian lewat hal-hal kecil. Perubahan kecil itu justru terasa memuaskan secara emosional karena meninggalkan plot twist yang seringkali tidak diduga penonton. 

Beberapa pembahasan fandom bahkan menyebut bahwa daya tarik tsundere muncul karena adanya emotional payoff perasaan ketika akhirnya karakter ini membuka diri dan berani mengungkap apa yang dirasakannya. Sosok tsundere seolah mengajarkan bahwa sisi lembut seseorang tidak selalu langsung ditampilkan sejak awal, sehingga setiap perkembangan akan terasa lebih berarti.

Drama Jepang Punya Cara Tsundere yang Lebih Halus

Kalau tsundere di anime kadang dibuat sangat ekstrem, teriak-teriak, memukul karakter lain, atau reaksinya berlebihan. Namun versi drama Jepang biasanya jauh lebih subtle. Mereka tidak selalu menunjukkan emosi lewat ledakan besar, dan kadang justru lewat hal sederhana seperti cara berbicara yang canggung, perhatian kecil yang diam-diam, atau kebiasaan sederhana seperti selalu muncul saat seseorang membutuhkan bantuan. Dan justru karena lebih realistis, tipe karakter seperti ini terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak drama Jepang, hubungan antar karakter memang dibangun secara pelan. Tidak semua perasaan dijelaskan lewat dialog panjang. Ada banyak emosi yang disampaikan lewat jeda, tatapan, atau tindakan kecil yang nyaris tidak dijelaskan. Karena itulah karakter tsundere cocok sekali dengan gaya storytelling Jepang yang cenderung tenang dan tidak terlalu eksplisit.

Tsundere Disebut Dipengaruhi Budaya Jepang

Menariknya, sosok tsundere juga sering dikaitkan dengan cara budaya Jepang memandang ekspresi emosi. Dalam kehidupan sosial Jepang, komunikasi tidak selalu dilakukan secara langsung. Menunjukkan perasaan secara terang-terangan kadang dianggap terlalu terbuka atau membuat situasi menjadi tidak nyaman. Karena itu, banyak emosi justru disampaikan secara implisit lewat tindakan kecil dan gestur halus.

Hal ini akhirnya tercermin dalam karakter-karakter di drama maupun anime Jepang. Mereka mungkin tidak mengatakan “aku suka kamu”, tapi diam-diam menunggu saat hujan, membeli makanan favorit seseorang, atau mengingat detail kecil yang bahkan tidak disadari karakter lain. Dan diakui atau tidak, bentuk perhatian seperti itu sering terasa lebih emosional dibanding pengakuan cinta yang terlalu dramatis.

Sayangnya Tidak Semua Tsundere Disukai

Walaupun populer, karakter tsundere juga mulai mendapat kritik, terutama dari penonton modern. Banyak orang mulai merasa beberapa karakter tsundere terlalu toxic, kasar tanpa alasan, atau tidak punya perkembangan emosional yang jelas. Kalau di Indonesia, tsundere yang cukup populer adalah seperti tokoh Rangga dalam “Ada Apa dengan Cinta” yang ceritanya sangat menyayangi Cinta, namun belakangan dinilai toksik oleh penonton lantaran datang dan pergi seenaknya tanpa mempertimbangkan perasaan sang kekasih.

Di komunitas anime sendiri, diskusi soal “bad tsundere writing” cukup sering muncul. Banyak penonton merasa trope ini gagal kalau karakter hanya marah-marah sepanjang cerita tanpa ada sisi manusiawi yang berkembang. Dan sebenarnya kritik ini masuk akal. Karakter tsundere hanya menarik kalau ada alasan emosional di balik sikap mereka. Kalau tidak, mereka bisa terasa melelahkan dan sulit disukai. Karena itu, tsundere yang ditulis dengan baik biasanya bukan sekadar “galak”, tapi karakter yang perlahan belajar jujur terhadap dirinya sendiri.

Alasan Tsundere Tetap Bertahan Walau Kontroversial

Pada akhirnya, tsundere bukan cuma trope tentang karakter dingin yang diam-diam manis. Mereka adalah representasi dari banyak hal yang cukup manusiawi, seperti rasa takut ditolak, kesulitan membuka diri, gengsi, dan konflik antara ingin dekat dengan seseorang tapi takut terluka. Itulah kenapa karakter seperti ini terus bertahan dalam drama Jepang maupun budaya pop secara umum.

Karena di balik sikap cuek dan dialog ketusnya, banyak penonton sebenarnya melihat sesuatu yang familiar, yaitu seseorang yang tidak pandai menunjukkan perasaan, tapi diam-diam ingin dimengerti. Adakah kalian yang relate dengan karakter seperti ini?

Pastikan kamu selalu update dengan konten drama Jepang terbaru yang menarik ditonton. Cek tayangan favoritmu hanya di Shorama! Dapatkan aplikasinya sekarang juga di sini!

 

Referensi

Artikel Terkait
Fenomena Second Lead Syndrome

Fenomena Second Lead Syndrome dalam Drama Korea, Kenapa Penonton Lebih Sering Jatuh Hati pada Orang Ketiga?

Dalam sebuah karya sinematografi, normalnya pemeran utama adalah sosok yang diharapkan jadi center of attention sehingga penggambarannya dibuat positif, bahkan terlihat sempurna. Namun jika sering

Dulu Sampai Puluhan Episode

Dulu Sampai Puluhan Episode, Kenapa Drama Korea Sekarang Semakin Pendek?

Drama Korea mencapai puncak popularitas di Indonesia kurang lebih sejak dua dekade terakhir. Tayangan ini sudah berhasil mencuri perhatian penonton Indonesia lewat layar televisi pada

Fenomena Tokoh Introvert dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Fenomena Hikikomori dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Salah satu hal out of the box dari drama Jepang adalah stok karakter utama yang terasa “berbeda” dibanding protagonis pada umumnya. Dorama umumnya tidak menampilkan

Frame 112 (7)

Start watching today

Available on App Store and Google Play

Vector
c3e286649ec501ab8409751e2f5167cd

Unduh aplikasi SHORAMA menggunakan kode QR dan tonton drama pendeknya sekarang