UNDUH SEKARANG

17 nov 2 1 1
Dulu Sampai Puluhan Episode

Bagikan :

Dulu Sampai Puluhan Episode, Kenapa Drama Korea Sekarang Semakin Pendek?

Drama Korea mencapai puncak popularitas di Indonesia kurang lebih sejak dua dekade terakhir. Tayangan ini sudah berhasil mencuri perhatian penonton Indonesia lewat layar televisi pada awal 2000-an lewat berbagai judul seperti Endless Love, Boys Over Flowers,Winter Sonata, dan Full House menjadi fenomena baru yang menawarkan kisah romantis yang seringkali bikin nangis. 

Namun jika kamu mengikuti perjalanan drama Korea sejak era tersebut, ada satu perubahan besar yang cukup terasa jika dibandingkan dengan drakor zaman sekarang. Pada masa itu, jumlah episode untuk setiap judul terbilang panjang dan penonton pun tak keberatan mengikutinya selama berminggu-minggu. Kini, lanskap K-Drama berubah drastis. Banyak serial kini hanya memiliki 8 hingga 12 episode saja. 

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai drama populer beberapa tahun terakhir. Sebut saja The Glory yang hadir dalam 16 episode yang dibagi menjadi dua bagian, atau A Shop for Killers yang hanya memiliki 8 episode. Bahkan banyak drama terbaru dari platform streaming yang selesai hanya dalam 6 hingga 10 episode. Lalu, apa sebenarnya yang membuat drama Korea semakin pendek? Yuk kita bahas!

1. Gara-gara Hadirnya Platform Streaming

Salah satu alasan terbesar berkurangnya jumlah episode drama Korea adalah meningkatnya dominasi platform streaming dalam industri drama Korea. Tuntutan di era pandemi (2019-2023) memicu dan mendukung munculnya layanan ini di dunia hiburan dan sistem informasi, demi memberikan kemudahan bagi semua orang agar tidak bosan menghabiskan waktu di rumah saja. Platform ini juga memudahkan akses informasi terkini agar tidak semakin terisolasi dengan kondisi saat itu. 

Sebelum era streaming berkembang pesat, sebagian besar drama Korea diproduksi untuk stasiun televisi nasional seperti KBS, MBC, atau SBS. Format 16 hingga 20 episode dianggap ideal karena mampu mengisi slot tayang mingguan selama dua bulan atau lebih.

Namun kini, banyak drama diproduksi khusus untuk platform seperti Netflix, Disney+, dan lain-lain. Platform streaming tidak terikat pada jadwal siaran televisi tradisional sehingga lebih fleksibel menentukan jumlah episode. Fokusnya bukan lagi mengisi slot tayang, melainkan menciptakan cerita yang padat dan mampu membuat penonton bertahan hingga episode terakhir.

2. Penonton Modern Cenderung Suka yang Ringkas

Penonton zaman dulu tidak terlalu mempermasalahkan panjang cerita. Banyak drama Korea hadir dalam 16–24 episode, sementara drama sejarah (sageuk) bisa mencapai 50 episode atau lebih. Karena pilihan hiburan belum sebanyak sekarang, penonton cenderung menikmati perkembangan cerita yang lebih lambat.

Namun kini, perilaku penonton sudah sangat berubah. Selain karena prinsip “time is money” di era digital, saat ini penonton memiliki banyak pilihan hiburan dalam satu genggaman. Selain drama Korea, mereka juga bisa menikmati film, serial Barat, anime, hingga konten media sosial dalam waktu yang sama.

Akibatnya, perhatian penonton menjadi semakin terbatas. Drama yang terlalu panjang berisiko kehilangan minat audiens di tengah jalan. Karena itu, banyak rumah produksi memilih format yang lebih singkat agar cerita dapat bergerak lebih cepat tanpa terlalu banyak adegan pengisi. Penonton pun merasa pengalaman menonton menjadi lebih efisien karena tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mencapai konflik utama atau penyelesaian cerita.

3. Biaya Produksi Drama Semakin Mahal

Alasan lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya biaya produksi. Dengan teknologi yang semakin pesat, makin banyak cara untuk memperbaiki kualitas di berbagai aspek. Alhasil, drama Korea modern kini memiliki kualitas visual yang jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu. 

Meski demikian, ada harga yang harus dibayar. Penggunaan efek visual, lokasi syuting internasional, sinematografi berkualitas film, hingga bayaran aktor papan atas membuat anggaran produksi melonjak drastis. Hal ini belum termasuk tuntutan kebutuhan properti dan lain-lain yang kadang muncul di luar dugaan.

Karenanya, daripada memproduksi 20 episode dengan kualitas yang tidak merata, banyak studio memilih membuat 8 hingga 12 episode dengan standar produksi yang lebih tinggi. Hasilnya, setiap episode terasa lebih padat dan memiliki kualitas yang lebih konsisten dari awal hingga akhir. Pada akhirnya, hal ini justru memberikan experience yang lebih menyenangkan bagi penonton. 

4. Mengurangi Risiko Cerita Berlarut-larut

Salah satu kritik yang sering muncul terhadap drama Korea era lama adalah adanya episode-episode yang terasa seperti “pengisi”. Tidak sedikit drama yang sebenarnya memiliki konflik utama yang sudah jelas, tetapi kemudian diperpanjang dengan konflik tambahan agar sesuai dengan jumlah episode yang telah ditentukan. Hal ini umumnya memang terjadi di banyak format hiburan zaman dulu, termasuk sinetron Indonesia.

Namun dengan format yang lebih pendek, penulis naskah dituntut untuk lebih fokus pada inti cerita. Hal ini membuat alur terasa lebih cepat dan minim bagian yang dianggap membosankan oleh penonton. Karena alasan tersebut, banyak penggemar justru menyambut positif tren drama pendek yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Namun Bukan Berarti Drama 16 Episode Akan Hilang

Perlu dipahami bahwa semakin pendeknya durasi drama Korea merupakan hasil dari perubahan besar dalam industri hiburan. Kehadiran platform streaming, perubahan kebiasaan menonton, meningkatnya biaya produksi, hingga tuntutan cerita yang lebih padat membuat banyak drama modern hadir dalam format 8 hingga 12 episode.

Namun meski tren drama pendek semakin populer, bukan berarti format 16 episode akan benar-benar ditinggalkan. Faktanya, masih banyak drama yang menggunakan format tersebut karena dianggap cukup ideal untuk mengembangkan karakter dan konflik secara mendalam.

Drama romantis, keluarga, atau melodrama sering kali masih membutuhkan ruang cerita yang lebih panjang dibandingkan thriller atau action. Dengan kata lain, jumlah episode kini lebih ditentukan oleh kebutuhan cerita dibandingkan standar industri yang kaku.

Selain itu, meski banyak penonton menyambut positif tren drama pendek, tidak sedikit pula yang merasa format 8 hingga 12 episode terkadang membuat cerita terasa terlalu terburu-buru. Di berbagai forum penggemar K-Drama, sebagian penonton mengaku masih merindukan format 16 episode karena dianggap memberi ruang lebih besar untuk mengembangkan karakter dan konflik secara mendalam

Karenanya, format klasik 16 episode kemungkinan masih tetap bertahan dan kemungkinan besar akan terus digunakan untuk genre tertentu. Hal yang berubah bukan hanya jumlah episodenya, tetapi juga cara industri drama Korea menyesuaikan diri dengan kebutuhan penonton masa kini.

Kira-kira kamu tim drama Korea episode banyak atau sedikit? Tapi mau panjang atau pendek, jangan lupa nontonnya di Shorama. Download aplikasinya sekarang juga di sini!

 

Referensi:

Artikel Terkait
Fenomena Second Lead Syndrome

Fenomena Second Lead Syndrome dalam Drama Korea, Kenapa Penonton Lebih Sering Jatuh Hati pada Orang Ketiga?

Dalam sebuah karya sinematografi, normalnya pemeran utama adalah sosok yang diharapkan jadi center of attention sehingga penggambarannya dibuat positif, bahkan terlihat sempurna. Namun jika sering

Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton

Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton?

Kalau bicara soal drama maupun film, tokoh utama biasanya digambarkan sebagai sosok protagonis yang punya karakter baik hati atau jadi perhatian karena kehidupan yang teraniaya.

Fenomena Tokoh Introvert dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Fenomena Hikikomori dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Salah satu hal out of the box dari drama Jepang adalah stok karakter utama yang terasa “berbeda” dibanding protagonis pada umumnya. Dorama umumnya tidak menampilkan

Frame 112 (7)

Start watching today

Available on App Store and Google Play

Vector
c3e286649ec501ab8409751e2f5167cd

Unduh aplikasi SHORAMA menggunakan kode QR dan tonton drama pendeknya sekarang