UNDUH SEKARANG

17 nov 2 1 1
Fenomena Second Lead Syndrome

Bagikan :

Fenomena Second Lead Syndrome dalam Drama Korea, Kenapa Penonton Lebih Sering Jatuh Hati pada Orang Ketiga?

Dalam sebuah karya sinematografi, normalnya pemeran utama adalah sosok yang diharapkan jadi center of attention sehingga penggambarannya dibuat positif, bahkan terlihat sempurna. Namun jika sering menonton drama Korea, mungkin kamu bakal memandang tokoh dengan POV yang berbeda. Awalnya kamu mendukung pasangan utama, tetapi semakin banyak episode yang ditonton, justru karakter orang ketigalah yang berhasil mencuri perhatian. Fenomena ini dikenal dengan istilah second lead syndrome.

Istilah second lead syndrome merujuk pada situasi ketika penonton lebih mendukung pemeran pendamping dibanding pemeran utama dalam kisah percintaan sebuah drama Korea. Second lead ini biasanya adalah tokoh yang dari awal tidak terlihat sebagai pusat perhatian, namun kemudian justru jadi idola karena dianggap lebih perhatian, lebih tulus, atau selalu hadir saat tokoh utama membutuhkan bantuan.

Istilah ini bahkan sudah menjadi bagian dari budaya fandom K-Drama selama bertahun-tahun. Tapi sebenarnya apa itu second lead syndrome? Benarkahnya fenomena ini nyata atau hanya gimmick? Coba kita bedah penjelasannya!

Apa Itu Second Lead Syndrome?

Melansir Mister Korean, sederhananya second lead syndrome adalah kondisi ketika penonton merasa karakter second lead lebih layak mendapatkan pasangan utama dibanding tokoh utama yang sebenarnya sudah disiapkan oleh penulis cerita.

Fenomena ini paling sering muncul dalam drama yang mengangkat kisah cinta segitiga. Karakter second lead biasanya digambarkan sebagai sosok yang baik, setia, dan rela berkorban, tetapi pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa cintanya tidak terbalas.

Dalam drama cinta segitiga, second lead ini biasanya muncul sebagai sahabat karakter utama yang terjebak friend-zone (zona teman). Namun dalam beberapa drama Korea, second lead juga digambarkan sebagai sebagai rival romantis yang menjadi penghalang hubungan pasangan utama.

1. Karakter Second Lead Biasanya Dibuat Terlalu Baik

Salah satu alasan terbesar lain munculnya sindrom ini adalah karena penulis naskah sering memberikan sifat-sifat yang sangat disukai penonton kepada karakter second lead. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, second lead biasanya adalah orang yang bisa dibilang lebih sempurna dari karakter utama. Mereka biasanya digambarkan sebagai sosok hangat, penyabar, perhatian, dan selalu mendukung tokoh utama tanpa syarat. Bahkan dalam beberapa kasus, karakter second lead terlihat lebih dewasa dibanding pemeran utama.

Sementara itu, pemeran utama justru sering diperkenalkan sebagai sosok dingin, arogan, atau sulit didekati sebelum mengalami perkembangan karakter. Akibatnya, banyak penonton merasa lebih mudah menyukai second lead sejak awal cerita.

2. Penonton Cenderung Simpati pada Tokoh yang “Kurang Beruntung”

Secara psikologis, manusia cenderung memiliki simpati terhadap sosok yang berjuang tetapi tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Karakter second lead sering berada dalam posisi tersebut. Mereka mencintai seseorang dengan tulus, tetapi penonton sudah mengetahui bahwa peluang mereka untuk menang sangat kecil.

Kondisi ini membuat penonton merasa kasihan dan secara emosional ikut mendukung perjuangan mereka hingga akhir cerita. Kondisi ini biasanya berkembang dan memunculkan stigma bahwa pemeran utama adalah orang yang ‘red flag” atau hanya beruntung karena pasangannya terlanjut bucin.

Misalnya karakter Choi Young-do dalam “The Heirs”. Walaupun awalnya dikenal sebagai tokoh yang memiliki kepribadian kurang baik, namun pada akhirnya dia rela berubah saat jatuh cinta pada Cha Eun-sang. Sayangnya, perubahan yang tidak main-main itu tidak membuahkan hasil karena pujaan hatinya tetap memiliki cinta yang lama.

3. Misterius dan Sulit Didapat Justru Lebih Menarik

Menariknya, karakter second lead sering kali memiliki latar belakang yang lebih misterius dibanding pemeran utama. Karena waktu tampilnya lebih sedikit, penonton tidak melihat terlalu banyak kekurangan dari karakter tersebut. Sebaliknya, mereka hanya diperlihatkan sisi terbaiknya. Hal ini membuat second lead terlihat lebih ideal dibanding tokoh utama yang seluruh kelebihan dan kelemahannya diperlihatkan sepanjang drama.

4. Media Sosial Membuat Second Lead Syndrome Semakin Besar

Pada era media sosial, fenomena ini semakin mudah menyebar. Penonton kini dapat membentuk “tim” untuk mendukung karakter favorit mereka. Salah satu contoh paling terkenal adalah perdebatan antara Tim Nam Do-san dan Tim Han Ji-pyeong dalam drama Start-Up yang bahkan menjadi bahan kajian akademis di Indonesia.

Dalam sebuah jurnal yang dipublikasikan oleh Universitas Gadjah Mada, second lead syndrome bukan sekadar soal karakter fiksi, tetapi juga berkaitan dengan cara penonton menafsirkan hubungan romantis dan menentukan pasangan yang dianggap paling cocok.

Apakah Kamu Juga Terjangkit Second Lead Syndrome?

Beberapa judul yang paling sering disebut ketika membahas fenomena ini antara lain Start-Up, Reply 1988, True Beauty, The Heirs, Cheese in the Trap, dan masih banyak lagi. Drama-drama tersebut kerap memunculkan perdebatan panjang di kalangan penonton mengenai siapa yang sebenarnya lebih layak menjadi pasangan tokoh utama.

Namun meski sering membuat penonton frustrasi, second lead syndrome justru menjadi salah satu bumbu yang membuat drama Korea semakin menarik. Kehadiran karakter kedua menciptakan konflik emosional yang membuat penonton ikut terlibat dalam cerita.

Tanpa second lead yang memikat, mungkin kisah cinta dalam drama Korea tidak akan terasa seseru sekarang. Jadi, kalau suatu hari kamu kembali jatuh hati pada karakter yang akhirnya patah hati, tenang saja. Kemungkinan besar kamu sedang mengalami second lead syndrome seperti jutaan penggemar K-Drama lainnya.

Kalau kamu sendiri, siapa second lead yang sampai sekarang masih membuatmu gagal move on? Siapapun idola kamu, jangan lupa tonton drama Korea-nya di Shorama! Buruan download aplikasinya di sini!

 

Referensi:

Artikel Terkait
Dulu Sampai Puluhan Episode

Dulu Sampai Puluhan Episode, Kenapa Drama Korea Sekarang Semakin Pendek?

Drama Korea mencapai puncak popularitas di Indonesia kurang lebih sejak dua dekade terakhir. Tayangan ini sudah berhasil mencuri perhatian penonton Indonesia lewat layar televisi pada

Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton

Membedah Karakter Tsundere dalam Drama Jepang, Kenapa Selalu Menarik Ditonton?

Kalau bicara soal drama maupun film, tokoh utama biasanya digambarkan sebagai sosok protagonis yang punya karakter baik hati atau jadi perhatian karena kehidupan yang teraniaya.

Fenomena Tokoh Introvert dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Fenomena Hikikomori dalam Drama Jepang, Tak Sempurna Tapi Bikin Penonton Relate

Salah satu hal out of the box dari drama Jepang adalah stok karakter utama yang terasa “berbeda” dibanding protagonis pada umumnya. Dorama umumnya tidak menampilkan

Frame 112 (7)

Start watching today

Available on App Store and Google Play

Vector
c3e286649ec501ab8409751e2f5167cd

Unduh aplikasi SHORAMA menggunakan kode QR dan tonton drama pendeknya sekarang