
Salah aspek utama dalam tayangan sinematik adalah penataan plot yang menarik. Namun kalau menonton dorama, ada satu hal yang cukup sering terasa. Cerita yang sudah selesai, tapi rasanya belum benar-benar selesai. Bukan karena alurnya kurang jelas, tapi justru karena ending-nya sering tidak memberi penutup yang “rapi” seperti yang biasa ditemukan di drama lain. Ada yang relate?
Banyak penonton bahkan terdiam beberapa detik setelah episode terakhir selesai, seperti masih menunggu satu adegan tambahan yang tidak kunjung datang. Kebingungan kecil itu muncul bukan karena ceritanya gagal ditutup, tetapi karena cara bercerita yang memang sengaja tidak mengunci semuanya dalam satu jawaban.
Fenomena ini bisa terlihat jelas di beberapa judul populer seperti Silent (2022) dan First Love: Hatsukoi (2022). Dua drama ini sering jadi contoh bagaimana Jepang tidak selalu mengutamakan “jawaban akhir”, melainkan pengalaman emosional yang tersisa setelah cerita selesai. Kalau masih kurang familiar, lihat saja akhir kisah serial Doraemon dan Nobita yang bisa dibilang benar-benar plot twist.
Bagi sebagian penonton, ini terasa menyebalkan. Tapi bagi yang lain, justru di situlah kekuatan drama Jepang. Kira-kira kenapa seperti itu? Coba kita bedah!
1. Bukan Tidak Selesai, Tapi…
Karya sinematik didominasi oleh plot yang jelas, spesifik, dan tidak bikin orang bertanya-tanya. Kalau terbiasa dengan drama yang memberikan akhir yang jelas, misalnya siapa bersama siapa, siapa menang, siapa kalah, maka menyaksikan ending dorama bisa terasa “kurang tuntas”. Rasanya seperti ada bagian yang janggal.
Padahal, banyak cerita memang sengaja tidak ditutup secara penuh. Konsep open ending sendiri bukan berarti cerita berhenti tanpa arah, tapi justru memberi ruang interpretasi bagi penonton. Hal ini kerap disalahartikan sebagai cerita yang menggantung, padahal secara struktur naratif, justru itu bagian dari pendekatan storytelling yang disengaja.
Di Silent, misalnya, alur emosional dibangun secara pelan dan intim, dengan fokus pada perubahan hubungan antar karakter akibat kehilangan dan jarak komunikasi. Cara penyampaiannya tidak meledak-ledak, bahkan cenderung minimalis, dan itu juga tercermin di ending-nya yang tidak memberi penegasan berlebihan. Beberapa ulasan menyoroti bagaimana serial ini lebih banyak bekerja lewat perspektif karakter daripada penutupan konflik secara eksplisit.
Sementara di First Love: Hatsukoi, cerita tidak hanya bermain di satu garis waktu, tapi juga menyusun ulang memori dan emosi karakter yang saling bertaut. Ending-nya tidak sepenuhnya menjawab “akhir hubungan mereka bagaimana”, tetapi lebih menunjukkan bagaimana setiap karakter akhirnya berdamai dengan perjalanan hidupnya masing-masing. Banyak penonton menangkap ini sebagai akhir yang “tidak konvensional”, meskipun sebenarnya tetap utuh secara emosional.
2. Realita Tidak Selalu Memberi Jawaban
Karakter utama dorama adalah menyajikan kisah yang realistis dan dekat dengan emosi manusia. Nah, bisa dibilang, salah satu alasan kenapa ending drama Jepang sering terasa pahit atau menggantung adalah karena mereka cenderung dekat dengan realita.
Diakui atau tidak, dalam kehidupan nyata, tidak semua hubungan berakhir bahagia, tidak semua konflik punya solusi yang jelas, dan tidak semua cerita benar-benar “selesai”. Misalnya, saat berkonflik dengan seseorang di kehidupan nyata, realitanya adalah banyak dari kita yang memilih menghindar, menjauh, dan memilih untuk tidak menyelesaikannya karena merasa hal itu tidak perlu.
Dalam hal ini, tampaknya drama Jepang sering mempertahankan ketidakpastian itu. Alih-alih memberikan jawaban yang rapi, mereka memilih tetap setia pada perjalanan karakter, bahkan kalau itu berarti akhir yang tidak memuaskan secara konvensional. Hal ini berlawanan dengan drama Korea yang umumnya menggunakan kisah yang ideal, namun hampir tak pernah terjadi dalam masyarakat.
Menariknya, dalam banyak karya cerita, ending yang baik tidak selalu harus bahagia. Yang lebih penting adalah apakah akhir tersebut terasa konsisten dan bermakna bagi keseluruhan cerita. Dan di titik ini, dorama sering memilih “makna” dibanding “kepuasan instan”.
3. Fokus pada Perjalanan, Bukan Hasil
Kalau diperhatikan, banyak drama Jepang tidak membangun cerita menuju satu klimaks besar di akhir. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada proses tentang bagaimana karakter berubah, hubungan berkembang, atau keputusan kecil berdampak besar. Akibatnya, ending terasa seperti kelanjutan dari proses itu, bukan penutup yang dramatis. Kadang, hubungan tidak dijelaskan apakah benar-benar berakhir atau tidak. Tapi justru karena itu, penonton sudah “tahu” jawabannya dari perjalanan yang mereka lihat.
4. Memberi Ruang untuk Penonton Berpikir
Ending yang menggantung sering kali memicu diskusi. Beberapa orang mungkin merasa tidak puas, namun tak sedikit penonton yang mulai menafsirkan sendiri, berdebat soal makna, bahkan membayangkan kelanjutan ceritanya
Fenomena ini bukan hal baru. Ending yang tidak sepenuhnya jelas memang sering memancing berbagai interpretasi dari penonton, karena tidak semua elemen cerita dijelaskan secara eksplisit. Dan mungkin, ini memang tujuannya. Alih-alih memberikan satu jawaban, cerita justru membuka banyak kemungkinan.
5. Sesuai dengan Segmen Drama Jepang
Diakui atau tidak, ada beberapa karya yang bersifat segmented, dan drama Jepang mungkin salah satunya. Layaknya menikmati musik, dorama memang menyasar penonton yang lebih menyukai kisah realistis.
Di sisi lain, tidak semua penonton menikmati pendekatan ini. Ada yang merasa terlalu menggantung, tidak memberikan kepuasan, atau bahkan terasa seperti cerita yang “tidak selesai”. Itu valid, dan pecinta drama Jepang sudah memahaminya sebagai ciri khas. Karena pada akhirnya, preferensi menonton memang berbeda. Ada yang mencari closure, ada juga yang lebih menikmati proses.
6. Berkaitan dengan Jejak Budaya
Di balik gaya storytelling ini, ada pengaruh budaya yang cukup kuat, salah satunya konsep mono no aware. Secara sederhana, mono no aware adalah kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara, dan momen indah justru terasa indah karena tidak bertahan selamanya. Konsep ini sering muncul dalam karya-karya Jepang, termasuk film dan drama modern, dan bahkan beberapa kajian akademik melihat First Love: Hatsukoi sebagai salah satu representasi narasi yang membawa nuansa tersebut dalam bentuk nostalgia dan kehilangan yang halus.
Selain itu, ada juga pendekatan estetika seperti wabi-sabi, yaitu penerimaan terhadap ketidaksempurnaan dan hal-hal yang tidak selesai secara sempurna. Dalam konteks cerita, ini bisa berarti bahwa sebuah akhir tidak harus “rapi” untuk dianggap bermakna.
Pendekatan seperti ini membuat ending drama Jepang terasa lebih sunyi, lebih reflektif, dan sering kali meninggalkan ruang kosong yang justru mengundang penonton untuk memaknainya sendiri.
Kenapa Terasa Lebih Membekas?
Menariknya, ending yang “tidak selesai” justru sering lebih diingat. Ada alasan sederhana di balik ini, bahwa hal yang tidak sepenuhnya selesai cenderung terus dipikirkan.
Berbeda dengan ending yang rapi, yang biasanya langsung “ditutup” dalam pikiran, ending terbuka meninggalkan ruang kosong yang membuat cerita terus hidup, bahkan setelah selesai ditonton. Itulah kenapa banyak drama dengan ending sedih atau pahit justru terasa lebih emosional dan membekas.
Ending drama Jepang mungkin tidak selalu memberikan apa yang diharapkan. Tidak selalu jelas, tidak selalu bahagia, dan kadang terasa seperti berhenti di tengah jalan. Tapi justru di situlah letak keunikannya.
Dorama seolah percaya bahwa tidak semua cerita harus ditutup dengan jawaban. Bahwa ketidakpastian juga bagian dari kehidupan. Dan bahwa kadang, yang paling membekas bukanlah akhir yang sempurna, melainkan perasaan yang tertinggal setelah cerita selesai.
Bukan soal ending, tapi fakta bahwa semua cerita akan tetap berlanjut, bahkan setelah layar benar-benar gelap.
Referensi:
- https://www.idntimes.com/hype/entertainment/penjelasan-ending-drama-jepang-first-love-00-6x7yf-s4t249
- https://www.kapanlagi.com/jepang/9-rekomendasi-drama-jepang-yang-happy-ending-4a141b651b.html
- https://www.idntimes.com/hype/entertainment/drama-jepang-sad-ending-00-v8jyb-6799r0
- https://www.researchgate.net/publication/382126587_Estetika_Jepang_Wabi-Sabi_dan_Mono_no_Aware_dalam_Film_Memories_of_Matsuko_tahun_2006
- https://doraemon-fanon.fandom.com/wiki/Doraemon_ending_(Theory_1(Accordingto_me,_Janabora))